Minggu, 30 Agustus 2015

Menertawakan hidup. Tak ada lagi momen yang lebih menyenangkan. Salah satu kapabilitas agung milik manusia dari Sang Penciptanya yang Maha Humoris.
Itulah koevolusi. Kemampuan makhluk hidup untuk mengubah konteks. Yang semula menjadi musuh akhirnya menjadi teman, dan perubahan itu menciptakan kehidupan baru. Percayalah, ini nggak hanya terjadi di level fisik, tapi juga mental. Ketika bakteri primitif saja mampu mengubah konteks, tidakkan kamu heran dengan manusia-manusia yang menyerah begitu saja dengan keadaan? Padahal kemampuan itu nyata-nyata diberikan di setiap level kehidupan, dari mulai makhluk bersel tunggal sampai makhluk terkompleks yang ada: kita.
Segalanya terjadi tak terduga-duga. Hanya ada satu yang pasti dalam hidup, yaitu ketidakpastian. Hanya ada satu yang patut Anda harapkan datang, yaitu yang tidak diharapkan.
Berhenti memilah antara apa yang diinginkan dan tidak, lalu stagnasi hanya karena anda berkeras atas sesuatu yang sebenarnya harus berubah. Berhenti juga menilai baik buruk dari apapun. Bahkan untuk itu anda hidup. Anda adalah pengamat dan penikmat. Bukan Hakim
Kau hadir dalam ketiadaan,
Sederhana dalam ketidakmengertian.
Gerakmu tiada pasti,
Namun aku selalu disini,
Menantimu..
Entah mengapa..
Pernahkan kamu merasa waktu mendadak lenyap, tapi bumi tetap berputar?
Pernahkan kamu merasa tidak dimana-mana, sekaligus berada dimana-mana?
Dan, pernahkah kamu tidak berkata-kata, tetapi kamu berbicara?

Apa ini semua? Pasar malam kasih sayang?
Cinta diobral dan dicuci gudang?
Yang kudamba juga sederhana.
Bukan cinta antik dan berukiran unik.
Bahkan jika harus terhempas, terinjak tertindas dan termutalasi hati ini akan tetap memilih jalan untuk pulang jalan yg akan menuju ketenangan jalan yg akan mendapat ketentraman bagi rasa, biarkan alam menjawab semua pertanyaan yg terlintas dalam benak para insan, apa itu jalan pulang? apa itu jalan menuju ketenangan? sesungguhnya jalan itu adalah jalan yg slalu kita lewati bahkan tak pernah kita ketahui.
Aku bertahan untuk kita, untuk kamu dan aku. bukan semata mata karna ego dan ambisi tapi karna cinta dan rasa ingin memiliki,, biarkan aku terdiam walau hampa menunggu walau sepi sampai akhirnya embun menghembus bahwa waktuku telah usai.
Hanya dengan irama kubergurai hanya dengan air mata ku berkeluh hanya dengan waktu kubergulat dan hanya dengan tarikan nafas kucoba berjuang lagi kembali lagi dan terjatuh lagi.
Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang.
(Degup jantung, embusan nafas. Harmoni tanpa not) Itulah rima dari puisi yang tak pernah habis : Hidup. Dan bila jantung berhenti? Puisi adalah roh bertabir kata. Roh itu, tak pernah mati. Tak pernah pergi? Ia segalanya. Harus pergi ke mana lagi? segalanya ada padamu.
Semua perjalanan hidup adalah sinema. Bahkan lebih mengerikan, Puteri. Darah adalah darah. Dan tangis adalah tangis. Tidak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu
Cinta tidak membebaskan. Konsep itu memang utopis. Cinta itu tirani. Ia membelenggu. Menggiringnya ke lorong panjang pengorbanan.
Hidup memang aneh. Banyak penjelasan di dalam ketidakjelasannya
Tidak ada awal dan akhir. Tidak ada sebab dan akibat. Tidak ada ruang dan waktu. Yang ada hanyalah…. Ada. Terus bergerak, berekspansi, ber-evolusi. Sia-sialah orang yang berusaha menjadibatu di arus ini, yang menginginkan kepastian atau pun ramalan masa depan, karena sesungguhnya justru dalam ketidakpastian manusia dapat berjaya, menggunakan potensinya untuk berkreasi.
Ajarkan aku menjadi naif
senaif dirimu yang masih bisa tertawa
senaif kebahagiaan di alam kita berdua
karena di setiap detik..
dikala kenyataan mulai bersinggungan..
kurasakan sakit yang nyaris tak tertahankan
Atau..
Ajarkan aku menjadi penipu!
bila kau merasakan sakit itu didalam tawamu.
Marah itu mudah. Tapi marah kepada siapa, dengan kadar kemarahan yang tulen, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit. (Aristoteles)
Bukan soal yg mana yg tulus dan tidak menganggap tapi ini soal siapa yg selalu berjuang dan siapa yg hanya diam untuk kenyamanan, bukan soal yg bisa melakukan tapi soal yg tidak bisa apa apa tapi mau berusaha.
Pernahkah kita merasakan bawa kita tidak berkata namun kita berkata - kata, saat kita dimana - mana tapi sesungguhnya kita tak dimanapun, kita bersama tapi sesungguhnya kita tak bersama - sama. maaf jika hati ini terlalu sulit terbuka tapi sesunggunya sudah terpapar
Terkadang kita memang harus belajar berkorban untuk kebahagiaan orang yg kita cinta walaupun bukan sama sekali bersumber dari kita untuk kita dan dari kita.

.

Tuhan, jika memang selama ini distorsi alam bawah sadar ini terlalu resah untuk dilampiaskan terlalu sulit untuk diucapkan aku hanya terdiam dalam doa, doa yg slama ini buat secerca air yg tercurah dari indra penglihatan yg terkuak bahwa hati ini sedang gundah tuhan jika memang ini takdirmu aku rela menjalani ini dengan semua yg terjadi